Tuesday, 13 May 2008

Fatwa Tentang Aurat

Yang Dibolehkan untuk Ditampakkan pada Mahram


Lajnah Daimah Lilifta ditanya: Apakah perhiasan yang boleh ditampakkan kepada kerabat?
Jawaban: Yang diperbolehkan untuk ditampakkan kepada kerabatnya selain suaminya adalah wajahnya, kedua telapaknya, gelang kakinya giwangnya, kalungnya, kepalanya dan kakinya

Membuka Wajah di Hadapan Kerabat yang Bukan Mahram

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya ada 2 (dua) laki-laki bersaudara tinggal bersama dalam satu rumah. Bolehkah kedua istri mereka menampakkan wajah masing-masing di hadapan saudara suaminya? Perlu diketahui bahwa keduanya orang yang istiqamah dalam dien.
Jawaban : Jika demikian kondisinya, maka diwajibkan bagi wanita untuk berhijab dari yang bukan mahramnya. Seorang istri tidak boleh menampakkan wajahnya kepada iparnya, karena saudara ipar seperti orang asing dalam hal memandang dan kemahramannya. Dan tidak boleh pula berduaan dengannya apabila suaminya tidak ada di rumah. Ini adalah masalah yang biasa terjadi dalam masyarakat, di mana ada dua saudara yang tinggal bersama, salah satunya sudah menikah. Maka tidak boleh bagi yang sudah menikah untuk meninggalkan istrinya bersama saudaranya yang belum menikah apabila pergi bekerja atau belajar.
Rasulullah telah bersabda:
“Janganlah seorang lelaki berduaan dengan wanita. Hindarilah untuk berkumpul dengan wanita.”
Mereka (para shahabat) bertanya: “Bagaimana dengan al-hamwu?”(Yang dimaksud dengan al-hamwu adalah kerabat suami). Beliau menjawab
“Kerabat suami bagaikan kematian.”
Keinginan untuk melakukan zina selalu bermula dari kondisi semacam ini. Suami pergi meninggalkan istrinya bersama saudaranya di rumah, kemudian mereka dirasuki setan hingga terjadilah perzinaan. Semoga Allah menghindarkan kita dari perbuatan ini. Berzina dengan istri saudara, lebih besar dosanya daripada berzina dengan istri tetangga, bahkan lebih hina lagi.
Yang jelas telah terlepas beban tanggung jawab saya di sisi Allah dengan menjawab pertanyaan anda ini, bahwa tidak boleh bagi seseorang untuk meninggalkan istrinya bersama saudaranya dalam satu rumah. Bagaimanapun keadaannya, hingga meskipun saudaranya adalah orang yang paling dapat dipercayai, paling jujur dan paling baik.
Sesungguhnya setan masuk pada manusia melewati jalan darah dan dorongan biologis yang tidak ada batasnya, terlebih pada anak muda.


Akan tetapi bagaimana caranya apabila dua bersaudara tinggal di satu rumah sedang salah satunya sudah menikah? Apakah artinya, apabila suami akan pergi ia harus mengajak saudaranya atau pergi bersama istrinya?
Jawabannya: Tidak. Akan tetapi caranya dengan membagi rumah menjadi dua. Separuh untuk saudara yang tinggal sendiri dan pembatasnya ada pintu terkunci yang kuncinya dibawa oleh saudara yang sudah beristri apabila sedang pergi. Dengan demikian, sang istri tinggal sendiri di satu sisi rumah dan saudaranya tinggal di sisi lain dari rumah tersebut. Tetapi kadang saudaranya berdalih di hadapan saudaranya dan berkata, “Kenapa kamu melakukan ini? Tidakkah kamu mempercayai saya?”
Jawabannya: Katakan kepadanya: “Saya meiakukan ini untuk kemaslahatanmu karena setan merasuki manusia melewati jalan darah, hingga mungkin ia akan menguasaimu dan mengajakmu baik dengan lembut ataupun paksa sehingga nafsumu mengalahkan akalmu. Saat itu kamu berada dalam keadaan bahaya. Saya membuat pembatas ini untuk menjagamu dan untuk kemasiahatanmu yang juga merupakan kemaslahatan ku,”
Jika ia marah dengan jawaban itu, biarkan saja dan jangan diperhatikan. Masalah ini saya sampaikan kepadamu agar terlepas dan tanggung jawab menyampaikannya, dan perhitungan amal perbuatanmu terserah pada Allah.


Mengenai membuka wajah, hukumnya haram. Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk membuka wajahnya di hadapan saudara suaminya, karena ia adalah orang asing (bukan mahram) baginya. Baginya, kedudukan saudara suaminya persis seperti laki-laki di jalanan