Tuesday, 13 May 2008

Ahli Tareqat

Ahli Tareqat/Torikot dalam tulisan ini saya maksudkan dengan mereka orang-orang yang kadang menyebut dirinya ahli tirakat. *maaf jika pengertiannya kurang jelas* Mereka dalam kehidupan seringkali tidak melakukan ibadah dengan benar. Dan menyebut orang-orang yang siang malam berusaha dalam menjaga hatinya dengan melakukan amalan-amalan wajib semacam shalat dengan ‘orang syari’at’.

Berdasar apa yang telah saya ketahui dari mereka, dari salah satu orang yang secara jelas mengaku ikuttareqat semacam itu, mereka adalah orang-orang yang lumayan fanatik dengan para ulama sufi dari masa-masa yang telah lalu. Di mana orang-orang sufi ini sudah bisa kita lihat perilaku menyimpangnya dalam perbuatan mereka sehari-hari. Mereka tidak mau bekerja, hari-hari hanya dilewatkan dengan beribadah, tanpa mau mengurus keluarga sebagai konsekwensinya yang pasti. Di mana dasar dari mereka adalah mereka ingin melepaskan hidup ini dengan hanya untuk beribadah kepada Allah semata. Mereka lantas meninggalkan kehidupan dunia dengan berbagai macam rutinitasnya.

Dan meninggalkan dunia ini secara sepenuhnya bisa dibilang sesuatu yang melanggar syari’at. Allah telah berfirman dalam berbagai ayat-Nya bahwa kita itu boleh menikmati dunia ini. Kita boleh memanfaatkan apa yang ada di dunia ini untuk memenuhi kebutuhan kita. Selama semua itu tidak berlebih-lebihan kita sah-sah saja untuk memeanfaatkan dan mendayagunakan apa yang ada di dunia ini.

Dan para ahli tareqat pun demikian meski mereka tetap mau bekerja tapi dalam kenyataan dan kehidupan ini mereka tetap memakai berbagai anggapan salah dalam kesehariannya. Salah satunya adalah mereka merasa bahwa kita dalam hidup ini beribadah hanya untuk Allah semata sehingga tidak perlu untuk menampakkan ibadah kita pada orang lain. Sehingga saya sering melihat mereka itu jarang melakukan shalat. Karena shalat mereka hanya untuk Allah *hal ini tentunya juga berlaku pada kita, hanya untuk Allah* sehingga seolah segenap amal mereka itu tidak boleh dilihat orang lain. Mereka melakukan ini dengan alasan untuk menjaga kemurnian hati, agar ikhlas tetap tertanam dengan kuat dalam diri.

Dan karena mereka berpikiran untuk tetap menjaga hatinya itulah hal-hal serupa banyak yang mereka lakukan, mulai dari shalat, yang sering mereka ganti dengan berdzikir yang menurut pengakuannya mereka lakukan sepanjang napas mereka masih terhembus. Kita ditanya tenyang hal ini mereka akan menjawab bahwa tuuan shalat adalah untuk mengingat Allah, jadi antara shalat dan dzikir itu sama saja, tidak ada bedanya. Bukankah dengan dzikir kita sudah ingat Allah. Dan itu adalah sama dengan shalat. Salah satu hal lagi adalah mereka tidak mau menda’wahkan apa yang mereka amalkan dan yakini itu kepada khalayak, *bukankah apa yang mereka lakukan adalah hal yang benar menurut mareka ? * dengantujuan yang sama ‘menjaga keikhlasan’ .

Mereka tidak akan mau berda’wah kepada kepada orang yang mereka anggap ‘orang luar’ . Entah dengandasar apapembedaan ini. Tapi dasri sedikit apa yang saya tuturkan tadi kita bisa mengambil sedikit kesimpulan , bahwa ada kesalahan-kesalahan dalam pengamalan agama mereka.

Dengan dalih menjaga hatinya tersebut, mereka tidak mau amal mereka itu dilihat oleh orang lain. Kemudian ujungnya mereka menggantinya dengan dzikir yang menurut mereka sudah ’sama’ dengan shalat. Bukankah ini suatu pelanggaran yang nyata terhadap syari’at ? Shalat adalah suatu perintah yang jelas-jelas dijelaskan dalam Al Qur’an. Shalat adalah sesuatu yang wajib, tidak bisa tidak shalat itu harus kita kerjakan dengan segenap aturan yang menjelaskan tentangnya. Dengan rukun, syarat sunahnya dan ketentuan-ketentuan lainnya dalam pelaksanaannya, termasuk waktu pelaksanaan dan batas-batasnya.

Bukankah ini sungguh suatu kesesatan ? Dengan dasar pemikiran awal yang terlihat begitu benar menurut syari’at tapi akhirnya mereka justru terdampar dalam kesalahan yang begitu mendalam. Mereka telah berani melanggar aturan agama ini semau mereka, bahkan lebih dari itu mereka telah membuat suatu syari’at terbaru dalam beribadah, mereka mendustakan Allah dengan jalan mendustakan perintah-Nya. Mereka merasa lebih unggul terhadap Rabb mereka, dengan membuat ‘pembaharuan’ yang mereka lakukan dengan ceroboh dan mendewakan akal manusia yang sangatlah terbatas.

Dalam Al Qur’an belum pernah kita menemukan adanya dalil yang menjelaskan bahwa suatu ibadah itu sama saja dengan ibadah yang lainnya, meski ada kemiripan hasil yang kita dapat dari ibadah tersebut jika kita melakukannya. Tidak ada bukan ? Apalagi iabdah yang mampu menggantikan ibadah yang lain, sangat tidak mungkin bukan ? Dri sini mungkin secara kasar kita bisa saja mengatakan bahwa mereka sudah keluar dari agama ini tanpa mereka sadari, karena mereka telah berani mendustakan perintah Allah. Dan ini merupakan suatu pengingkaran terhadap kebenaran Allah juga. Apakah mereka masih beragama jika mereka tak meyakini-Nya ?

Tanpa sadar iblis telah menyesatkan mereka, dari berawal untuk menjaga hati akhirnya mereka terperosok begitu jauh. Meninggalkan perintah Allah. Kemudian dengan tanpa sadar lagi mereka akhirnya berani membuat suatu syari’at baru menurut hawa nafsunya. Mereka telah begitu jauh tersesat. Na’udzubillah. Semoga kita terhindar dari fitnah keji setan yang semacam ini.